Tampilkan postingan dengan label Teknologi Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi Militer. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Februari 2016

Mahasiswa ITS ciptakan robot tank untuk TNI AD

Mahasiswa Institut Teknologi 10 November (ITS), Bachtiar Dumais Laksana (23) rupanya tak mau tinggal diam jika Indonesia tertinggal di bidang teknologi, utamanya pertahanan dan keamanan. Atas alasan itu pula, bersama Adhitya Whisnu Pratama dan Muhammad Iqbal membuat kendaraan taktis mini tanpa awak pertama.

Tank robot yang dikendalikan lewat remote control ini dirancang, dirakit dan diproduksi sendiri oleh ketiganya. Produk tersebut belum diproduksi massal, masih berupa purwarupa. Tank ini diberi nama War-V1.

Tank robot War-V1 BDL-Tech
Tank robot War-V1
Untuk mendukung aktivitasnya, mereka mendirikan perusahaan sendiri yang diberi nama BDL-Tech. Produknya tersebut sudah dilirik oleh Kodam Kodam VI/Mulawarman di Balikpapan, serta Batalyon Kavaleri 8 Divisi Infantri 2 Kostrad di Bandung.

"Saya sendiri direkturnya, bertiga, pengerjaan sudah makan waktu setahun lebih, kira-kira 13 bulan. Lengkap dengan desain, mekanik, rancang kendali elektronis. Kami memang kebetulan dari awal mau menyusun perusahaan yang bergerak di bidang hankam dan pendidikan," beber Bachtiar saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (1/2) kemarin.



Pembuatan tank robot tersebut bermula dari hobi ketiganya di dunia militer, dengan latar belakang sebagai lulusan elektro sejak SMK, mereka mulai mencoba merealisasikan mimpinya. Desain dan model tank buatannya tersebut berasal dari robot yang digunakan oleh militer Jepang.

Tank robot War-V1 BDL-Tech

"Kemudian kami coba, itungannya nekat. Saya tanya ke Batalion Kavaleri sampai Kodam, yang berikan tanggapan positif Kodam Mulawarman dan Batalion Kavaleri 8. Jadi kemudian dengan konsep yang ada, kendaraannya saya sendiri inginnya berfungsi sebagai back up, di lapangan sebagai sweeper atau penyapu, setelah infantri masuk mampu di back up unit ini. Makanya mulai dari senjata sistem kami sesuaikan dengan tujuan aplikasi," terangnya.

Dalam proses pembuatannya, Bachtiar dan kedua rekannya belum mendapatkan bantuan dana dari pihak manapun, termasuk pemerintah. Alhasil pembelian komponen dan alat pendukung lainnya masih menggunakan modal pribadi.

"Ini masih modal pribadi, saya sendiri masih ikut orangtua, belum lulus dari kampus. Termasuk pendirian CV dan segala macam," lanjut dia.

Tank robot War-V1 BDL-Tech

Karena masih menggunakan dana sendiri, mereka sempat kesulitan untuk memasang komponen yang lebih memadai. Sebab, seluruh komponen yang diperlukan harus didatangkan dari China dengan harga belasan juta rupiah, itu pun belum termasuk bea impor.

"Kami disiplin elektro semua di bidang mekanik bergerak, kami belajar otodidak, makanya waktu desain belajar dari nol. Jadi masih gambar tangan mulai dari 2014," kenang dia.

Meski begitu, bachtiar mengungkapkan udah ada beberapa pihak yang mau mensponsori tank buatannya. Tank ini juga akan menjadi bekal untuk menyelesaikan skripsi.

"Ini ada beberapa bagian saya ikutkan untuk judul skripsi, kalau lolos Kemenhan rencananya ada pengucuran dana, dari menhan mungkin turunnya ke dikti," pungkasnya. (Merdeka)

Senin, 23 November 2015

Robot Perang Buatan Google di Ujicoba Marinir AS

Robot buatan anak perusahaan Google, Boston Dynamics, tengah diuji coba oleh lembaga militer angkatan laut Amerika Serikat.

Robot prototipe yang dinamai "Spot" tersebut memang diproyeksikan Marinir AS untuk mendukung operasi militer.


Robot Perang Buatan Google di Ujicoba Marinir AS

"Menurut saya, robot seperti Spot bisa digunakan untuk mengintai atau mengangkut barang perang," kata pembuat robot Boston Dynamics, Ben Swiling.

Sebagaimana tertera pada situs resmi militer AS dan dihimpun KompasTekno, Senin (23/11/2015), uji coba yang dilakukan meliputi kemampuan beroperasi di berbagai medan, seperti bukit, hutan, dan perkotaan.


Marinir juga melatih Spot untuk mengidentifikasi musuh.

Semua itu dilakukan dengan kontrol via laptop atau video game. Kontrol tersebut bisa dioperasikan dengan jarak terpaut hingga 500 meter dari robot.

Menurut Swiling, mengendalikan Spot sangatlah mudah. "Anak empat tahun pun bisa mengoperasikannya," kata dia.

Robot berukuran 160 pon tersebut bukanlah yang pertama diproyeksikan untuk mendukung lembaga militer. Sebelumnya, ada robot bertajuk "LS3" dan "BigDog".

Namun, Spot diklaim merupakan versi yang lebih cepat, tangguh dan efisien untuk dioperasikan.

Terlebih, menurut Swiling, di saat-saat dan medan-medan tertentu, ada baiknya militer terlebih dahulu menurunkan pasukan robot ketimbang manusia.

"Robot tak bisa mati. Untuk beberapa medan berbahaya, tentu tak ada yang ingin mengorbankan manusia," ia menjelaskan. (Kompas)

Sabtu, 10 Oktober 2015

Liteye Systems Ciptakan Senjata Pembunuh Drone

Perkembangan pesat teknologi drone yang di persenjatai telah menjadi ancaman baru dalam dunia pertahanan. Tapi kini sudah ada berbagai senjata penangkal, yang bisa melumpuhkan drone dari jauh. Salah satu senjata itu adalah Anti-UAV Defence System (AUDS), yang dapat memancarkan gelombang radio untuk �mematikan� drone di angkasa.

Anti-UAV Defence System. (Dok. Blighter Surveillance System)

AUDS ini dipamerkan di Las Vegas, baru-baru ini. Ia memakai gelombang radio bertenaga tinggi untuk memutuskan komunikasi antara drone dan pangkalannya, lalu mematikan drone itu di udara.

�Bila saya bisa melihatnya (drone), saya bisa mematikannya,� tutur Rick Sondaq, Wakil Presiden Eksekutif Liteye Systems, kepada Guardian. Liteye yang menjual penangkal itu di Amerika Serikat dan Kanada. Penangkal ini dipamerkan di Commercial Unmanned Aerial Vehicle Expo di Las Vegas pekan ini.


AUDS sendiri dibuat oleh tiga pabrik asal Inggris: Enterprise, Chess Systems, dan Blighter. Sondaq berharap bisa menjual perangkat itu kepada pihak bandar udara dan obyek-obyek vital lain yang kalau diserang, bisa membahayakan keamanan nasional.

Alat ini juga bisa dipakai di daerah pedalaman untuk menangkal drone yang dipakai untuk kegiatan teroris, mata-mata, atau aktivitas lain yang tak diinginkan.

Cara kerja AUDS

Pada tahap pertama radar Blighter di perangkat itu fokus pada satu atau beberapa drone yang tampak pada jarak sampai 8 kilometer. Sistem AUDS kemudian melacak drone itu memakai sinar infra merah dan kamera, termasuk dengan bantuan software khusus. Lalu, jalur komando antara pangkalan dan drone diserang memakai pengacak frekuensi radio. Prosesnya memakan waktu 10-15 detik.

Pesaing AUDS

Tak cuma ketiga perusahaan Inggris pembuat AUDS yang punya ide seperti itu. Perusahaan pembuat pesawat Boeing juga punya jagoannya sendiri. Mereka menamakannya Compact Laser Weapon System (LWS). Perangkat ini bisa dipisahkan jadi empat bagian kecil supaya bisa dibawa dengan mudah oleh satu atau dua tentara.

Lalu, dalam 15 menit LWS bisa dirakit kembali. LWS mampu menjatuhkan drone pada jarak 35 kilometer dengan laser yang mengandung energi sampai 10 kilowatt. Penangkal ini diklaim senyap, tak kelihatan, dan presisi. (CNN)

Kamis, 25 Juni 2015

Amerika segera bangun pangkalan militer di ruang angkasa

Nampaknya, perang tidak hanya akan berlangsung di daratan Bumi saja. Sebab, Amerika sedang berancang-ancang membangun pangkalan perang di luar angkasa.

Rencana besar itu diungkapkan oleh Sekretaris Departemen Pertahanan Amerika, Robert Work di konferensi intelijen GEOINT 2015. Menurut Robert, proyek pembangunan pangkalan itu sedianya dimulai 6 bulan lagi.


Amerika segera bangun pangkalan militer di ruang angkasa

Pangkalan tersebut diklaim mampu memburu satelit militer atau mata-mata milik negara lain. Harapannya, pangkalan militer itu mampu mencegah serangan yang diarahkan pada satelit milik Amerika.


Yang patut diwaspadai, pangkalan itu tidak hanya berperan sebagai pusat persenjataan Amerika di luar angkasa, tetapi juga tempat berkumpulnya semua data satelit milik Amerika. Dengan begitu, data intelijen dari bumi dan luar angkasa lebih mudah diatur.

Hal itu bisa membuat Amerika dengan mudah menemukan tentara musuh di zona perang yang ada di Bumi. Sebelum akhirnya meluncurkan serangan balasan.

"Jika ada tentara Rusia yang mengunggah foto selfie-nya di zona perang, kami ingin tahu secara akurat posisi foto itu diambil," ungkap Robert Work, Gizmodo (24/06). (Merdeka)

Rabu, 25 Maret 2015

Ilmuwan Rusia Ciptakan Jubah kamuflase Canggih Untuk Tetara

Perkembangan teknologi militer berkembang dengan cepat seiring dengan kubutuhan yang mendukung operasi militer dilapangan, salah satunya adalah baju atau jubah pelindung prajurit.

Ilmuwan Rusia Ciptakan Jubah kamuflase Canggih Untuk Tetara

Dimasa depan seragam tempur prajurit modern akan menggunkan bahan komposit yang ringan, dan memiliki fungsi seperti melindungi tubuh tentara dari ledakan senjata api, menyamarkan kehadiran tentara dalam spektrum radiasi tertentu, memblokir radiasi dalam spektrum ultraviolet dan inframerah, sehingga tentara tak akan terlihat oleh sensor termal. Kini, ilmuwan tengah menyusun material yang dapat memperkuat fitur tersebut.

Pasukan Rusia sudah mendapatkan perlengkapan canggih dari kompleks �tentara masa depan� Ratnik (Prajurit), yang terdiri dari berbagai elemen termasuk pakaian tempur.


Menurut Russian Advanced Research Projects Foundation, seragam tempur prajurit yang ada saat ini belum memberikan keamanan dan kenyamanan yang dibutuhkan oleh tentara, sehingga perlu diciptakan material pakaian tempur baru demi keamanan dan kenyamanan para prajurit.

Sebagai langkah awal Russian Advanced Research Projects Foundation dan Universitas Negeri Saratov telah membangun Laboratorium Special-Purpose Materials guna mengembangkan material canggih untuk pakaian tempur para tentara. Berdasarkan kemampuan perlindungannya, material ini akan melampaui semua bahan pakaian tempur yang sudah ada saat ini.

Research Projects Foundation berusaha untuk mewujudkan basis teknologi untuk menciptakan material baru untuk pembuatan kain yang sangat halus menggunakan electrospinning. Dengan teknologi ini, diharapkan dapat menciptakan kain sintetis yang sangat halus dengan kemampuan perlindungan yang unik.

Singkatnya, dalam beberapa tahun ke depan militer Rusia akan memiliki �jubah tak terlihat�. Berkat struktur kainnya yang unik, material ini akan sangat ringan dan tidak menghambat sistem pernafasan pengguna, sehingga pakaian ini dapat digunakan oleh tentara sepanjang waktu. Saat ini, pakaian tempur kompleks Ratnik hanya dapat digunakan selama 48 jam. (rbth)

Kamis, 12 Maret 2015

Di Masa Depan Iran Terjunkan Prajurit Robot Untuk Berperang

Ketika negara Islam Iran di masa depan akan berperang, yang maju tak hanya prajurit manusia namun juga �prajurit� robotika.

Pengumuman tersebut disampaikan oleh Komandan Angkatan Darat Iran, Letnan Jenderal Ahmad Reza Pourdastan. Berdasarkan sumber berita asal Iran, Fars News Service, penggunaan teknologi mumpuni itu dianggap cukup menakutkan.


Di Masa Depan Iran Terjunkan Prajurit Robot Untuk Berperang

Pourdastan mengatakan, Self-Sufficiency Jihad Organization bergabung dengan tentara AD Iran sedang mengembangkan robot perang tersebut yang dikabarkan akan mampu menjalankan berbagai tugas.

Walau belum banyak informasi mengenai kehebatan robot perang ini, berdasarkan perkiraan robot canggih Iran akan dilengkapi dengan sejata mesin apik berukuran 7,62 mm, misil atau roket yang bakal dikendali dari jauh (remote controlled), serta thermal camera yang mampu beroperasi di kondisi malam.


Robot perang Iran ini dikabarkan akan dibekali kemampuan operasi dengan jarak lima sampai tujuh kilometer.

Kantor berita CNN sempat mewartakan, kemunculan robot di medan perang modern telah terjadi secara cepat.

Saat Amerika Serikat menyerbu Irak lebih dari sepuluh tahun yang lalu, AS hanya menggunakan sistem drone di udara dan tak ada teknologi mumpuni untuk pertahanan darat.

Kini, inventaris pertahanan udara AS sudah mencapai sekitar tujuh ribu drone helikopter seperti jenis Predator and Reaper.

Tentara AS kemudian mencobakan robot perang untuk pertahanan darat dan sekarang sudah mencapai angka 12 ribu, salah satunya iRobot PackBots yang digunakan untuk pemboman Afganistan. Lalu tahun lalu, pihak AS berharap robot pada akhirnya bisa menggantikan seperempat tentara manusia pada pertengahan abad mendatang.

Sementara di Suriah, penentang pemerintahan Bashar al-Assad pada 2013 silam juga menggunakan robot bersenjata mesin yang dikendalikan dari jauh untuk memantau tanpa membahayakan manusia. (CNN Indonesia)

Senin, 09 Maret 2015

Teknologi Anti Sadap Buatan Dalam Negeri

PT Indoguardika Cipta Kreasi mengenalkan berbagai produk komunikasi dan informasi anti sadap pada Indodefence Expo, di Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (5/11).

Badan Usaha Milik Swasta yang bergerak di bidang industri pertahanan nasional ini, memperkenalkan produk salah satunya adalah produk Cyber Defence Teknologi Anti Sadap untuk komunikasi via jaringan mobile, kabel, maupun data internet.


Teknologi Anti Sadap Buatan Dalam Negeri

"Kami pamerkan ke publik produk unggulan  anti sadap layanan pesan pendek atau SMS Guard, suara atau Voice Guard, pesan instan atau Chat Guard dan telepon PSTN atau TiO Guard," kata Managing Director PT ICK, Dahniar Wisnu Paramita, di Booth D187, Hall D, JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat.

Dahniar menjelaskan, diantara keempat produk yang dipamerkan, tiga diantaranya merupakan produk baru yang  diluncurkan di perhelatan akbar pameran teknologi internasional itu. Tiga produk baru  tersebut Voice Guard, Chat Guard dan Tio Guard. "Menyusul tahun depan  kita luncurkan layanan antisadap Email Guard dan VPN (Virtual Private Network) Guard," ujarnya.


Sementara layanan SMS Guard sendiri sudah bisa dinikmati publik sejak tahun lalu. Semua produk teknologi keamanan komunikasi dan sistem informasi tersebut asli buatan karya anak bangsa.

�Kami kumpulkan para ahli kriptografi, IT security, mobile web developer, dan manufaktur perangkat keras berenkripsi asli Indonesia untuk mengembangkan produk komunikasi aman anti sadap,� papar Dahniar.

Research and Production Director ICK Sujoko menjelaskan teknologi anti sadap perusahaan IT Security ini  sudah berstandar internasional. Algoritma, protokol, key management, aplikasi dan hardware berenkripsi yang dikembangkannya selain untuk kepentingan pemerintahan sipil, bisa dimodifikasi untuk kepentingan militer.

�Untuk kepentingan pemerintahan sipil misalnya, teknologi kami dapat dikembangkan dan diimplementasikan untuk melindungi keamanan data program e government. Sementara untuk militer, teknologi anti sadap tersebut mendukung jalur komunikasi aman  personel militer maupun kepentingan operasi via jaringan mobile, kabel, maupun jalur data. Semuanya untuk mendukung konsep cyber defence Indonesia,� ujar Sujoko. (JPNN)

Rabu, 10 Desember 2014

Siswa SMA Semarang Ciptakan Rompi Antipeluru dari Sabut Kelapa

Berawal dari hobi bermain game sederhana, Aristio Kevin Ardyaneira Pratama (16) siswa kelas XI dan M. Iqbal Fauzi (15) siswa kelas XI MIA 5 SMAN 3 Semarang, Jawa Tengah berhasil mengubah sabut kelapa menjadi rompi antipeluru yang ramah lingkungan.

Aristio Kevin Ardyaneira Pratama  dan M. Iqbal Fauzi siswa kelas XI MIA 5 SMAN 3 Semarang Tengah memperlihatkan Stab-resistant and Ballistic Vest Made from Coconut Fiber Ciptaannya
foto : VIVAnews/Dwi Royanto

Hasil kreativitas yang diberi nama Stab-resistant and Ballistic Vest Made from Coconut Fiber ini bahkan telah diikut sertakan dalam berbagai ajang bergengsi seperti ajang 2nd International Science Project Olympiad (ISPrO) 2014 di Jakarta dan memperoleh medali perak. Kemudian di ajang Karyacipta Teknologi Tepat Guna di Semarang juga menyabet juara dua.

Berbahan Baku Sabut Kelapa

Kedua siswa berbakat di SMA 3 itu telah melakukan penelitian selama berulang kali selama enam bulan, beberapa kali gagal hingga akhirnya berhasil membuat rompi rompi anti peluru yang berkualitas baik
. Pemilihan bahan sabut, kelapa dipilih karena dinilai memiliki tekstur kuat menahan berbagai hantaman dari luar.


"Sabut kelapa kami pakai karena saat ditarik-tarik ternyata kuat, " kata Kevin di SMA 3 Semarang, Rabu 10 Desember 2014.

Pada percobaan tahap pertama sempat gagal, karena rompi antik berbahan sabut itu masih bisa ditembus peluru. Saat itu mereka masih memilih bahan fiber, sabut kelapa, dan plat seng pada percobaan pertama.

"Dulu masih ada seng-nya, sekarang sudah tidak pakai. Kami juga pernah coba pakai kain celana jeans tapi malah berat," kata Kevin yang menceritakan bahwa penelitian itu dlakukan selama enam bulan.

Sempat gagal pada empat kali percobaan. Namun semangat anak bangsa itu tak patah arang. Hasilnya positif. Percobaan kelima dan enam mereka berhasil. Peluru milik TNI/Polri dari pistol jenis M-1911 kaliber 0.45 inci yang dilontarkan dengan jarak 3 meter ternyata bisa memantul.

"Uji coba ini berhasil, setelah pelurunya mental dan kelebihan lainnya, rompi ini tidak bisa ditembus benda tajam," ucap  dia.

Semakin hari temuan mereka itu sudah mengalami kemajuan pesat. Dari prototipe pertama yang memiliki tebal 2,5 sentimeter dan berat 6 kilogram, saat ini lapisan antipeluru dari sabut kelapa itu hanya setebal 1,35 sentimeter dan berat 3 kilogram untuk dua lempeng di depan dan belakang rompi.

Tak tanggung-tanggung, kedua bocah cerdas itu selalu bekerjasama dengan TNI, Polisi, dan Perbakin untuk melakukan setiap uji coba rompi antipeluru ajaib tersebut. Mereka berharap temuan itu, bisa dikembangkan dan bisa menahan jenis peluru yang lebih berat. Sehingg ke depan, produk mereka bisa dimanfaatkan TNI maupun Polri.

Untuk biaya pembuatan lempengan rompi sendiri, kata dia, cukup murah dan dapat dibuat dalam waktu singkat. Mereka hanya butuh Rp800 ribu dalam mendapatkan setiap bahan yang diinginkan.

"Jika dibandingkan dengan rompi antipeluru baja memang produk kami lebih mahal tetapi jauh lebih ringan," kata Iqbal. (VivaNews)

Kamis, 16 Oktober 2014

Ilmuan IPB Ciptakan Teknologi Anti Radar Berbahan Cangkang Udang dan Tulang Ikan

TNI berkerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan teknologi anti radar bagi keperluan TNI. Pengembangan teknologi yang telah dilakukan sejak tahun 2011 ini diharapkan mampu memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) milik TNI.

Ilmuan IPB Ciptakan Teknologi Anti Radar Berbahan Cangkang Udang dan Tulang Ikan
Radar TNI AU

Menurut Wakil Ketua Dewan Juri Lomba Inovasi TNI 2014, Avanti Fontana, teknologi ini diciptakan dengan menggunakan bahan dasar cangkang udang (chitosan) dan tulang ikan (hidroksiapatit).

Sistem kerja utama alat itu yakni dengan menyerap pantulan gelombang frekwensi radar musuh yang dilayangkan ke alutsista milik TNI. Dengan diserapnya gelombang tersebut, maka musuh tak dapat mendeteksi kendaraan yang digunakan TNI dalam menjalankan operasinya.


�Inovasi ini jelas membantu meningkatkan peran dan tugas TNI,� kata Avanti disela-sela pemberian penghargaan Inovasi Panglimat TNI 2014 di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (12/10/2014).

Pengembangan teknologi ini dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa IPB, yang terdiri dari Bambang Riyanto, Akhiruddin Maddu, dan Esa Ghanim Fadhallah. Ketiga orang itu akhirnya didapuk menjadi salah satu tim pemenang dalam ajang Inovasi Panglima TNI 2014. Panglima TNI Jenderal Moeldoko pun, mengapresiasi pengembangan teknologi tersebut. Ia meminta agar penelitian dan pengembangan teknologi itu dapat dipercepat sehingga dapat segera diaplikasikan di alutsista TNI.

dalam keterangan terpisah, Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen TNI Fuad Basya mengatakan, TNI akan menggandeng PT Pindad dalam pengaplikasian teknologi ini. Di samping itu, TNI juga berencana agar teknologi ini dapat diproduksi secara masal. Meski demikian, ia mengatakan uji coba atas alat anti radar itu harus diuji coba terlebih dahulu di Badan Litbang TNI. (Tribun)

Senin, 07 Juli 2014

Amerika Kembangkan Helikopter Futuristik Berkemampuan Super

Ambisi Amerika Serikat untuk tetap menjadi negara dengan peralatan militer tercanggih memang tidak pernah surut, meski kondisi dunia masih relatif terasa cukup aman dan tidak terlalu banyak perang terjadi di seluruh belahan bumi, Amerika Serikat masih terus mengembangkan teknologi militer mereka. Dan yang terbaru adalah sebuah helikopter super.

Helikopter super AVX
Helikopter super AVX
 
Pentagon diketahui telah memesan beberapa unit helikopter berkemampuan super rancangan produsen pesawat terbang asal negara bagian Texas, AVX, dengan total anggaran dana hingga USD 100 miliar atau sekitar Rp 1000 triliun lebih!


Helikopter buatan AVX diprediksi akan menjadi pesawat udara futuristik dengan beragam fungsi, yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan sipil maupun militer. Dengan bantuan dua buah baling-baling dengan sistem 'tumpuk' dan masin-masing satu kipas pendorong di bagian kiri dan kanannya, helikopter AVX mampu terbang dengan top speed hingga 230 knot atau 426 kilometer per jam.


Helikopter super AVX

Helikopter AVX yang memiliki kemampuhan terbang cepat dan gesit ini diproyeksikan untuk menggantikan helikopter tipe Black Hawk yang selama ini menjadi andalan tentara Amerika Serikat.

Satu helikopter AVX dapat mengangkut 12 personil tentara dan 4 kru tambahan serta beban hingga 5.9000 kilogram. Sedangkan total berat 'bersih' dari helikopter ini mencapai 12.000 kg. Terdapat dua pintu samping untuk para penumpang dan pintu utama di bagian belakang untuk memasukkan atau menjatuhkan persenjataan.

Firma tersebut juga menambahkan mereka mengusung desain gabungan dari beberapa desainer pesawat terbang dan helikopter berpengalaman untuk mengurangi biaya pengembangan. Alhasil, harga per unit helikopter tipe kargo dan 'penyerang' ini bisa menjadi lebih murah. (Merdeka)